The Indonesian Honey Bees    

| |Selamat Datang Di Blog Lebah Madu Organik | Dapatkan Informasi Seputar Lebah dan Berbagai Produk Perlebahan Disini ! | atau klik DISINI untuk informasi produk kami.| |Selamat Datang Di Blog Lebah Madu Organik | Dapatkan Informasi Seputar Lebah dan Berbagai Produk Perlebahan Disini ! | atau klik DISINI untuk informasi produk kami.| |Selamat Datang Di Blog Lebah Madu Organik | Dapatkan Informasi Seputar Lebah dan Berbagai Produk Perlebahan Disini ! | atau klik DISINI untuk informasi produk kami.|




Selasa, 02 Agustus 2016

SULITNYA MENENTUKAN STANDAR PROPOLIS DUNIA

Oleh : Muhamad Sahlan 

Pagi itu tanggal 16 Juni 2016, telah dibuka acara konferensi propolis pertama di dunia. Kegiatan yang dilaksanakan hanya 2 hari ini diikuti oleh para peneliti propolis di Dunia. Nampak peneliti-peneliti senior seperti Prof. Bankova dari Bulgaria, Prof. Alexandra dari Brazil dan juga Prof. Maria Spivak dari Amerika. Konferensi ini membahas berbagai isu terkait dengan propolis baik fungsi propolis bagi lebah, kimia propolis dan perkembangan penelitian mengenai pemanfaatan propolis terutama untuk kesehatan.

Acara konferensi dimulai dengan presentasi mengenai fungsi propolis untuk lebah oleh Prof. Maria Spivak. Melalui percobaannya terhadap sarang yang sudah dilapisi propolis dengan yang tidak (lihat di gambar), Spivak membuktikan bahwa propolis berfungsi sebagai daya tahan koloni lebah, koloni lebah yang sarangnya telah dilapisi propolis lebih cepat berkembang dibandingkan dengan yang tidak. Hasil penelitian ini bisa digunakan juga oleh para peternak lebah, terutama yang akan membuat koloni baru (kotak baru), pelapisan bagian dalam kotak dengan propolis akan meningkatkan daya tahan koloni, sehingga koloni dapat tumbuh dengan cepat dan baik.

Gambar 1. Contoh kotak yang dalamnya dilapisi oleh propolis (Sumber: Spivak 2015)

Yang seru mejadi topik bahasan dalam konferensi propolis tersebut adalah hasil-hasil penelitian terkait dengan studi metabolomik dari berbagai macam propolis di Dunia. Hasil-hasil penelitian mereka lab Prof. Bankova, Prof. Alexandra dan Prof. Watson menunjukkan sangat bervariasinya senyawa-senyawa yang terkandung didalam propolis. Prof. Bankova di dalam presentasinya mengusulkan adanya kesepakatan untuk propolis yang sumber tanamannya dari Poplar memakai senyawa CAPE (Caffeic acid phenethyl ester) sebagai standarnya, karena senyawa ini sudah banyak diteliti, Sedangkan Prof. Alexandra banyak membahas mengenai propolis dari negaranya yaitu Brazil yang telah memiliki marker senyawa sendiri berupa Artepicilin C yang banyak terdapat di dalam propolis mereka, Namun, tidak seperti Prof. Bankova. Prof. Alexandra lebih terbuka mengenai penetapan standar dari propolis. Alexandra juga memaparkan mengenai propolis dari stingless bee yang memiliki keragaman yang berbeda dengan yang jenis Apis. Stingless bee (kelulut/teuweul) memiliki propolis yang relative seragam, hipotesis dia hal ini disebabkan kelulut hanya mengambil sumber resin dari satu atau 2 tanaman saja, hal ini berbeda dengan propolis dari jenis Apis. Prof. Watson lebih terbuka terhadap standarisasi propolis, karena penelitian-penelitiannya menjukkan bahwa setiap propolis memiliki ke khasannya masing-masing, seperti propolis dari afrika yang memiliki aktivitas anti malaria yang lebih unggul dibandingkan dengan propolis dari daerah lain.

Hal lain yang menarik dari para penceramah tentang propolis ini adalah presentasi dari Prof. Kumazawa dari universitas Shizuoka Jepang. Kumazawa meneliti senyawa-senyawa yang terkandung di dalam propolis Okinawa Jepang. Propolis dari Okinawa tidak memiliki senyawa CAPE maupun Artepicilin C, tapi mengandung senyawa lain yang khas yaitu prenylflavonoids yang memiliki sifat antioxidant tinggi, setelah menemukan senyawa tersebut, beliau melakukan penelitian berupa pencarian sumber resin dari propolis dan ditemukan sumber tanamannya yaitu tanaman Macaranga tanarius dari tanaman inilah resin propolis Okinawa di dapatkan, setelah diteliti bagian mana yang mangandung resin ini, dan ditemukan bahwa resinnya ada pada daun, batang dan buahnya. Yang menarik adalah setelah diketahui tanamannya, kemudian dikembangkalah tanaman Macaranga tanarius menjadi tanaman herbal yang bisa diekstrak zat aktifnya dari daun. Hal ini membuka peluang penelitian baru yaitu berupa pencarian tanaman obat baru dengan petunjuk dari propolis di daerah tersebut. 

Gambar 2. Macaranga tanarius

Kamis, 29 Oktober 2015

Finalis di Ajang Rice Bowl StartUp Award 2015

Dua Perusahaan StartUp Indonesia Menjadi Finalis di Ajang Rice Bowl StartUp Award 2015




Beberapa waktu yang lalu, saya dikejutkan oleh telepon dari Malaysia, karena perusahaan Nano Biotek Indonesia menjadi finalis di ajang Rice Bowl StartUp Award yang diselenggarakan oleh NEF (New Enterpreneurship Fondation), dan diminta untuk datang ke Kuala Lumpur tanggal 14-16 Oktober 2015 (waktu itu dua hari lagi), padahal seingat saya, saya tidak pernah mengajukan aplikasi untuk award tersebut. Setelah berkoordinasi dengan pihak Direktorat Inovasi dan Inkubator Bisnis Universitas Indonesia, ternyata ini merupakan rangkaian dari acara UStart yang diselenggarakan oleh University of Malaya yang akan diselenggarakan pada bulan November 2015 di Kuala Lumpur. Akhirnya saya memutuskan untuk berangkat ke Kuala Lumpur. Alhamdulillah tiket pesawat dan akomodasi selama di Kuala Lumpur ditanggung oleh panitia. 

Acara dimulai dengan Makan Malam yang diisi dengan sesi perkenalan dan pengumuman finalis Rice Bowl Start Up Award. Award ini dibagi menjadi 6 kategori yang pendaftarannya melalui website rice bowl start up award yaitu kategori Retail, Media, Digital/Online, Social Enterpreneur, Technology, Product, Service, Innovation Go-To-Market, dan Woman in Business. Dan 2 kategori tambahan yaitu FinTech yang disponsori oleh MayBank dan University yang disponsori oleh Ustart. Dari sekitar 300 perusahaan start up yang mendaftar dalam ajang penghargaan ini dipilih 24 perusahaan yang menjadi finalist untuk tiap kategori. Sedangkan untuk kategori University dari sekitar lebih dari 50 perusahaan start up dari Universitas seluruh ASEAN hanya 3 perusahaan yang terpilih menjadi finalis nya. Alhamdulillah Nano Biotek Indonesia terpilih menjadi finalis di kategori University Start Up.

 

Kongress Masyarakat Perlebahan Dunia 2015

Oleh Muhamad Sahlan

Peserta Kongress 44th APIMONDIA International Apicultural Congress

Pengajar di Departemen Teknik Kimia, Universitas Indonesia



Kongress Masyarakat Perlebahan Dunia rutin diselenggarakan setiap 2 tahun sekali. Pada tahun 2015 kegiatan kongres ini adalah yang ke 44 kali nya, diselenggarakan di Kota Daejon, Korea Selatan. Selain kongres, diselenggarakan juga beberapa program saintifik, expo, dan ekskursi. Kegiatan ini diikuti oleh berbagai delegasi dari hampir seluruh negara di Dunia, dan diselenggarakan pada tanggal 15 – 20 September 2015. Kegiatan ini dihadiri oleh stakeholder yang berhubungan dengan dunia perlebahan, baik para peneliti, peternak lebah, pebisnis, pemangku kebijakan maupun para pemegang kebijakan dalam hal ini pemerintah, serta orang-orang yang hanya sekedar ingin tahu tentang dunia perlebahan. 

Anggota yang tercatat dari Indonesia di APIMONDIA hanya ada satu organisasi, Namun sayang sekali, anggota dari Indonesia tersebut, saat ini sedang direkomendasikan untuk dikeluarkan karena sudah tidak aktif lagi di APIMONDIA.  Hal tersebut perlu kita fikirkan mengenai keanggotaan aktivis perlebahan Indonesia supaya perlebahan di Indonesia dikenal di Dunia.
Kegiatan saintifik meeting dibagi menjadi beberapa program, plennary session, Symposium, Round table dan work-shop dan beberapa bidang kajian Beekeeping economy, Bee biology, Bee health, pollination and bee flora, beekeeping technology and quality, apitherapy dan beekeeping for rural development.  Beekeeping economy membahas mengenai kondisi ekonomi para peternak lebah; bee biology membahas mengenai lebah dilihat dari sisi organisme nya; Bee health membahas mengenai kesehatan lebah; pollination dan bee flora, membahas mengenai makanan lebah dan dampaknya pada proses polinasi;  beekeeping technology and quality membahas mengenai teknologi yang diterapkan pada proses peternakan lebah dan juga bagaimana menjaga dan meningkatkan kualitas pada peternakan lebah; Apitherapy membahas mengenai pemanfaatan produk-produk lebah untuk kesehatan; dan beekeeping for rural development membahas mengenai peternakan pada daerah terbelakang. Dalam acara tersebut topik mengenai apitherapy adalah topik yang paling ramai dibicarakan. 

Pembahasan mengenai khasiat atau manfaat produk-produk perlebahan memang menjadi topik yang tidak habis-habisnya dibahas, seperti pembuktian mengenai khasiat royal jelly sebagai anti-aging, cacing C. elegans menjadi hewan percobaannya, peneliti dari Jepang membuktikan bahwa dengan royal jelly waktu hidup rata-rata pada cacing tersebut lebih panjang dari biasanya.  Dari Indonesia, penelitian mengenai propolis Indonesia sangat dominan, Dr. drg. Ardo sabir dari Universitas Hasanuddin membahas mengenai manfaat propolis Indonesia untuk mengganti penambal gigi. Sedangkan dari Dr. dr. Joni Susanto dari Universitas Airlangga membahas mengenai khasiat propolis dalam menghambat proses kematian sel saraf. Sedangkan dari Universitas Indonesia mempresentasikan mengenai hasil uji kliniknya mengenai sediaan sabun lilin propolis Indonesia dalam mengobati penyakit keputihan. 

Selain saintifik meeting, ada juga kegiatan expo perlebahan, di dalam acara ini hampir seluruh negara menampilkan/memamerkan produk-produk perlebahan mereka, baik produk untuk peternakannya maupun hasil-hasil lebahnya. Semua negara memiliki unggulan madu sendiri-sendiri dengan rasa dan warna yang khas. Contohnya dari Brazil, mereka memiliki unggulan bahan baku propolis dengan beberapa warna hijau, coklat dan merah. Namun sayang sekali, tidak ada satupun perwakilan dari Indonesia yang mengikuti acara tersebut. 

Kegiatan ini ditutup dengan pemilihan tempat pelaksanaan kongres APIMONDIA yang ke 46. Ada dua negara yang mengajukan diri menjadi tuan rumah Amerika Serikat dan Kanada. Setelah melalui proses voting terpilihlah Kanada sebagai tuan rumah kongress APIMONDIA yang ke 46 yaitu di tahun 2019. Sedangkan untuk kongres yang ke 45 telah terpilih di kongres sebelumnya yaitu di Turki yang di tahun 2017.  Semoga suatu saat Indonesia bisa menjadi tuan rumah kongres APIMONDIA, kongres masyarakat perlebahan dunia. 


 
[X]




Dapatkan artikel seputar lebah madu lengkap melalui langganan E-Mail, untuk artikel terbaru akan dikirim lewat E-Mail anda

Artikel Via E-Mail Gratis

Copyright © The Indonesian Honey Bees | Muhamad Sahlan |